Tuban, 6 September 2026 — Memasuki hari kedua rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) 2026, Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) kembali menghadirkan penguatan nilai bagi mahasiswa baru. Tidak hanya memperkenalkan kehidupan akademik, PBAK juga menjadi ruang untuk menanamkan karakter dan nilai keislaman sebagai landasan mahasiswa dalam menjalani kehidupan di perguruan tinggi.
Kegiatan PBAK Day 2 yang diselenggarakan pada Ahad, 6 September 2026, di Universitas Al-Hikmah Indonesia, Tuban, menghadirkan K.H. M. Husnan Dimyati, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikmah Tuban, sebagai narasumber dalam seminar bertema “Trilogi Pesantren.”
Kehadiran K.H. M. Husnan Dimyati menjadi bagian penting dalam rangkaian pembinaan mahasiswa baru. Melalui seminar tersebut, mahasiswa diajak untuk memahami nilai-nilai pesantren yang tidak hanya relevan dalam kehidupan santri, tetapi juga memiliki makna penting dalam membentuk karakter generasi muda di tengah perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, K.H. M. Husnan Dimyati menjelaskan Trilogi Pesantren sebagai nilai dasar yang perlu menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan. Trilogi tersebut meliputi “Beriman dan Bertakwa, Berilmu dan Beramal, serta Berjuang dan Bernegara.”
Nilai pertama, beriman dan bertakwa, menjadi landasan spiritual bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan. Keimanan dan ketakwaan tidak hanya diwujudkan melalui ibadah, tetapi juga tercermin dalam sikap, akhlak, dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Nilai kedua, berilmu dan beramal, menegaskan bahwa ilmu tidak berhenti pada proses memperoleh pengetahuan. Ilmu harus diwujudkan dalam tindakan dan memberikan manfaat. Dalam kehidupan mahasiswa, proses belajar tidak semata-mata berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan secara nyata dan membawa kemaslahatan.
Sementara itu, nilai berjuang dan bernegara mengajarkan pentingnya kesadaran untuk mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Mahasiswa sebagai generasi penerus memiliki tanggung jawab untuk menjaga nilai-nilai kebangsaan sekaligus memberikan kontribusi sesuai dengan kemampuan dan bidang yang ditekuni.
Tema “Trilogi Pesantren” menjadi pintu masuk bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dalam nilai dan tradisi yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian dari fondasi pembentukan pribadi yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berakhlak, memiliki tanggung jawab, serta kesadaran terhadap perannya di tengah masyarakat.
Dalam kehidupan perguruan tinggi, kecerdasan akademik menjadi salah satu aspek penting. Namun, kemampuan intelektual tanpa diiringi karakter dan nilai moral tidak cukup untuk menjawab berbagai tantangan kehidupan. Oleh karena itu, penguatan nilai pesantren dalam PBAK menjadi bagian dari upaya membangun keseimbangan antara pengembangan ilmu pengetahuan, kematangan spiritual, dan pembentukan kepribadian mahasiswa.
Melalui pemaparannya, K.H. M. Husnan Dimyati juga memberikan pitutur kepada mahasiswa baru agar tidak memandang pendidikan hanya sebagai jalan untuk memperoleh gelar. Menurutnya, proses menuntut ilmu harus menjadi jalan untuk membentuk pribadi yang memiliki adab dan mampu memberikan manfaat.
“Menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mencari ilmu, tetapi bagaimana ilmu itu membentuk akhlak dan diwujudkan dalam amal. Ilmu yang baik harus membawa manfaat, bagi diri sendiri maupun bagi orang lain,” menjadi pesan yang ditekankan kepada mahasiswa baru.
Seminar ini juga menjadi pengingat bahwa mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai generasi penerus. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang berlangsung cepat, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan nilai, identitas, dan tanggung jawabnya.
Nilai-nilai pesantren yang mengedepankan keimanan, akhlak, kedisiplinan, penghormatan kepada guru, serta semangat menuntut ilmu dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam menjalani kehidupan akademik. Kampus dan pesantren, meskipun memiliki ruang pembelajaran yang berbeda, memiliki tujuan yang sejalan, yakni membentuk manusia yang memiliki ilmu pengetahuan sekaligus karakter.
PBAK Day 2 2026 Universitas Al-Hikmah Indonesia menjadi momentum bagi mahasiswa baru untuk tidak hanya mengenal sistem dan budaya akademik, tetapi juga memahami nilai-nilai yang menjadi bagian dari identitas institusi. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa diajak untuk membangun kesadaran bahwa keberhasilan dalam pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari proses pembentukan karakter dan kontribusi yang diberikan.
Dengan menghadirkan tema “Trilogi Pesantren,” Universitas Al-Hikmah Indonesia menegaskan pentingnya membangun mahasiswa yang memiliki keseimbangan antara keimanan, keilmuan, pengamalan, perjuangan, dan tanggung jawab sebagai warga negara. Nilai-nilai tersebut menjadi modal penting bagi mahasiswa untuk berkembang menjadi generasi yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki integritas dan kepedulian terhadap masyarakat.
Melalui rangkaian PBAK 2026, Universitas Al-Hikmah Indonesia terus berupaya mempersiapkan mahasiswa baru agar mampu menjalani proses pendidikan dengan kesadaran penuh akan tanggung jawabnya. PBAK Day 2 menjadi salah satu langkah untuk menanamkan pemahaman bahwa ilmu harus berjalan beriringan dengan iman, adab, dan amal, sementara perjuangan harus tetap berpijak pada tanggung jawab terhadap bangsa dan negara.
Pada akhirnya, seminar “Trilogi Pesantren” menjadi refleksi bagi mahasiswa baru bahwa perjalanan di perguruan tinggi bukan hanya tentang menjadi pribadi yang cerdas. Lebih dari itu, mahasiswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang beriman dan bertakwa, berilmu dan beramal, serta berjuang dan bernegara—sebagai bekal untuk memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan negara.



Tinggalkan Balasan