Seminar Kolaboratif UAI Tuban bersama MA Unggulan Ulumiyah Jatirogo; Warek 1 Ajak Gen Z Kenali Diri, Rancang Masa Depan, dan Bangun Kepemimpinan

·

·

TUBAN – Pascasarjana Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) Tuban menggelar Seminar Nasional bertajuk “Muslim Gen Z: Faith, Future & Leadership” di Madrasah Aliyah (MA) Unggulan Ulumiyyah Jatirogo, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, Kamis (5/11/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 12.00 WIB tersebut menghadirkan ruang edukasi, refleksi, dan pengembangan diri bagi sekitar 200 santri untuk memperkuat identitas keislaman, merancang masa depan, serta menumbuhkan kapasitas kepemimpinan generasi muda Muslim di tengah dinamika perubahan zaman.

Seminar nasional ini menghadirkan Dr. Muhammad Aziz, S.ThI., M.H.I., Wakil Rektor I Bidang Akademik, Kelembagaan, Inovasi, dan Kerja Sama Universitas Al-Hikmah Indonesia, sebagai pemateri pertama. Pemateri kedua, Ahmad Syahrul Ansori, M.Pd., Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) STIT K.H. Masbuhin Faqih Kasiman, Bojonegoro, turut memperkaya diskusi melalui perspektif pengembangan potensi dan kepemimpinan generasi muda. Jalannya kegiatan dipandu Zulfian Midror Rosyidin, mahasiswa Program Studi S2 Manajemen Pendidikan Islam Pascasarjana UAI Tuban, sebagai moderator.

Dalam pemaparannya, Dr. Muhammad Aziz menegaskan bahwa generasi muda Muslim saat ini menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Perubahan teknologi, derasnya arus informasi, pergeseran pola interaksi sosial, serta semakin kompleksnya pilihan pendidikan dan karier menuntut santri untuk memiliki lebih dari sekadar kecakapan akademik. Mereka membutuhkan kesadaran diri, fondasi nilai yang kuat, kemampuan berpikir kritis, serta orientasi hidup yang jelas agar tidak kehilangan arah di tengah berbagai kemungkinan dan tekanan lingkungan.

Menurut Dr. Aziz, masa remaja merupakan fase strategis dalam pembentukan identitas dan penentuan orientasi masa depan. Pada tahap ini, santri perlu mulai mengajukan pertanyaan mendasar tentang dirinya: siapa dirinya, potensi apa yang dimiliki, nilai apa yang diyakini, dan kehidupan seperti apa yang ingin dibangun. Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar refleksi personal, melainkan fondasi bagi proses pengambilan keputusan, pembentukan karakter, dan kesiapan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan di madrasah maupun pesantren.

Mengangkat tema Faith, Future & Leadership, Dr. Aziz menjelaskan bahwa ketiga dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan dalam membangun generasi Muslim yang unggul. Faith atau iman merupakan fondasi spiritual dan moral yang memberikan arah bagi kehidupan; Future berkaitan dengan kesadaran untuk merancang masa depan melalui ilmu, ikhtiar, dan pengembangan potensi; sedangkan Leadership merupakan kemampuan memimpin diri sendiri, membangun relasi yang sehat, dan mengambil peran dalam menghadirkan perubahan yang bermanfaat. Ketiganya perlu tumbuh secara integratif agar kesuksesan tidak kehilangan orientasi nilai dan kebermaknaan.

Dalam konteks pendidikan pesantren dan madrasah, Dr. Aziz menekankan bahwa menjadi santri bukanlah penghalang untuk memiliki cita-cita besar dan berkiprah dalam berbagai bidang kehidupan. Justru pesantren merupakan ruang pembentukan fondasi spiritual, intelektual, dan karakter yang dapat menjadi modal penting dalam menghadapi masa depan. Santri perlu memiliki keberanian untuk mengembangkan potensi, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memperluas cakrawala berpikir tanpa kehilangan identitas dan nilai-nilai keislaman yang telah menjadi bagian dari proses pendidikannya.

Salah satu substansi utama yang disampaikan Dr. Aziz adalah pentingnya self-discovery atau proses mengenali dan memahami diri secara mendalam. Ia mengajak peserta untuk tidak terburu-buru mendefinisikan masa depan hanya berdasarkan profesi, jabatan, atau pencapaian material. Sebelum menentukan ingin menjadi apa, generasi muda perlu terlebih dahulu memahami siapa dirinya, apa kekuatannya, apa yang menjadi minatnya, nilai apa yang ingin dijaga, serta kontribusi apa yang ingin dihadirkan melalui kehidupannya. Dengan demikian, cita-cita tidak sekadar menjadi ambisi, tetapi tumbuh dari kesadaran dan pemahaman yang lebih utuh mengenai diri sendiri.

Untuk mengoperasionalkan gagasan tersebut, Dr. Aziz memperkenalkan pendekatan reflektif The 5D Self-Discovery, yang meliputi Discover, Define, Dream, Design, dan Do. Kelima tahapan ini dirancang sebagai proses pengembangan diri yang membantu santri bergerak dari pengenalan potensi menuju perumusan nilai, pembentukan visi, penyusunan strategi, hingga tindakan nyata. Pendekatan tersebut menempatkan pengembangan diri bukan sebagai proses instan, melainkan perjalanan bertahap yang membutuhkan kesadaran, kesungguhan, dan konsistensi.

Tahap Discover mengajak santri mengenali kekuatan, potensi, minat, karakter, dan aspek diri yang masih perlu dikembangkan. Tahap Define mendorong mereka merumuskan nilai-nilai utama yang menjadi pegangan dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan. Selanjutnya, Dream membuka ruang bagi generasi muda untuk membangun aspirasi dan membayangkan masa depan yang bermakna, tidak terbatas pada keadaan saat ini. Pada tahap Design, aspirasi tersebut diterjemahkan menjadi rencana dan strategi yang realistis, sedangkan Do menegaskan pentingnya memulai tindakan konkret, membangun kebiasaan positif, dan menjaga konsistensi dalam proses pertumbuhan.

Dr. Aziz juga menggarisbawahi bahwa orientasi masa depan dalam perspektif Islam tidak dapat dilepaskan dari kesadaran mengenai tujuan penciptaan manusia. Merujuk pada QS. Adz-Dzariyat ayat 56, kehidupan manusia memiliki orientasi pengabdian kepada Allah SWT. Pemahaman tersebut memberikan perspektif bahwa belajar, mengembangkan kompetensi, membangun profesi, meraih cita-cita, dan memberikan kontribusi kepada masyarakat dapat menjadi bagian dari pengabdian apabila dijalankan dengan niat, tanggung jawab, dan nilai-nilai kebaikan. Dengan demikian, iman tidak berhenti sebagai identitas, tetapi menjadi prinsip yang menuntun keseluruhan perjalanan hidup.

Dalam pembahasan mengenai kehidupan sosial generasi muda, Dr. Aziz turut menyoroti pentingnya kemampuan mengelola diri dalam menghadapi dua ruang interaksi yang kini saling terhubung, yakni kehidupan sosial secara langsung dan kehidupan di media sosial. Menurutnya, santri perlu memiliki kecakapan sosial untuk bertenggang rasa, menghormati perbedaan, menjaga empati, dan membangun hubungan yang sehat di lingkungan nyata. Pada saat yang sama, mereka juga dituntut memiliki kedewasaan dalam berinteraksi di ruang digital yang sering kali menghadirkan tekanan, perbandingan sosial, dan dinamika komunikasi yang tidak selalu mencerminkan realitas sesungguhnya.

Ia mengingatkan bahwa media sosial tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur dalam menilai keberhasilan, harga diri, maupun kebenaran. Algoritma digital bekerja berdasarkan pola interaksi, preferensi, dan tingkat keterlibatan pengguna sehingga sesuatu yang sering muncul atau populer belum tentu benar, bernilai, atau layak dijadikan pedoman hidup. Santri perlu membangun literasi digital, kemampuan memeriksa informasi, berpikir kritis, dan kesadaran untuk membatasi diri agar tidak larut dalam arus media sosial. Popularitas tidak identik dengan kebenaran, viralitas tidak selalu mencerminkan kualitas, dan pengakuan digital bukan ukuran utuh dari nilai seseorang.

Perspektif tersebut berkaitan erat dengan pembentukan kepemimpinan Muslim Gen Z. Dr. Aziz menekankan bahwa kepemimpinan tidak semata-mata ditentukan oleh jabatan, posisi organisasi, atau kemampuan memengaruhi banyak orang. Kepemimpinan justru dimulai dari kemampuan memimpin diri sendiri, mengelola emosi, membangun disiplin, bertanggung jawab terhadap pilihan, dan menjaga konsistensi antara nilai yang diyakini dengan perilaku sehari-hari. Dari fondasi tersebut, generasi muda dapat mengembangkan kemampuan bekerja sama, memahami perspektif orang lain, serta berani mengambil inisiatif untuk menyelesaikan persoalan di lingkungannya.

Ia juga mengajak peserta memperluas pemahaman tentang kesuksesan. Keberhasilan hidup tidak semestinya hanya diukur melalui kekayaan, popularitas, prestasi akademik, atau status sosial. Muslim Gen Z perlu membangun orientasi kesuksesan yang lebih komprehensif, mencakup kualitas iman, kedalaman ilmu, kematangan karakter, kemandirian, integritas, dan kebermanfaatan. Cita-cita tinggi tetap penting, tetapi harus berjalan bersama kesadaran akan amanah, tanggung jawab sosial, dan komitmen untuk memberikan manfaat bagi sesama.

Sebagai bagian dari penguatan materi, seminar ini juga memperkenalkan Islamic Personal Vision Board sebagai media visual refleksi dan perencanaan masa depan. Melalui pendekatan tersebut, santri diajak mengintegrasikan lima dimensi penting dalam kehidupan, yakni My Faith untuk memperkuat identitas dan hubungan dengan Allah, My Best Self untuk mengenali karakter serta potensi yang ingin dikembangkan, My Dream Future untuk merumuskan aspirasi pendidikan dan karier, My Life Values untuk menentukan prinsip yang dijaga, serta My Positive Impact untuk memikirkan kontribusi yang ingin diberikan kepada masyarakat.

Pendekatan reflektif tersebut diharapkan membantu peserta memahami bahwa masa depan bukan sesuatu yang semata-mata ditunggu, melainkan dibangun melalui proses pembelajaran, pengambilan keputusan, dan tindakan yang berkelanjutan. Santri didorong untuk menyadari bahwa mereka tidak harus memiliki seluruh jawaban tentang masa depan pada saat ini. Hal yang lebih penting adalah memiliki keberanian untuk memulai, kesediaan untuk terus belajar, dan keteguhan dalam memperbaiki diri ketika menghadapi hambatan.

Sementara itu, Ahmad Syahrul Ansori, M.Pd., memperkuat pembahasan mengenai pentingnya kepemimpinan dan pengembangan kapasitas generasi muda. Kepemimpinan dipandang sebagai kemampuan yang dapat ditumbuhkan melalui pengalaman, pembiasaan, dan keterlibatan aktif dalam kehidupan sosial. Generasi muda perlu membangun sikap bertanggung jawab, mengembangkan kemampuan komunikasi dan kolaborasi, serta memiliki kepekaan terhadap berbagai persoalan di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya membentuk individu yang cakap secara akademik, tetapi juga pribadi yang siap mengambil peran dalam kehidupan bermasyarakat.

Seminar ini turut mendorong peserta memahami bahwa kontribusi sosial dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana melalui gagasan One Small Change Challenge. Santri diajak mengidentifikasi persoalan yang dekat dengan kehidupan mereka, seperti perundungan, kepedulian lingkungan, literasi digital, solidaritas antarteman, dan budaya berbagi. Dari persoalan tersebut, mereka dapat merancang tindakan atau proyek sosial yang sederhana, realistis, dan berkelanjutan. Pesan yang ditekankan adalah bahwa kepemimpinan tidak harus menunggu seseorang menjadi dewasa, memiliki jabatan, atau memperoleh sumber daya besar; perubahan dapat dimulai dari kepedulian dan tindakan nyata yang dilakukan hari ini.

Penyelenggaraan seminar nasional oleh Pascasarjana UAI Tuban ini menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam memperluas kontribusi akademik dan edukatif kepada masyarakat, khususnya dalam pengembangan generasi muda di lingkungan madrasah dan pesantren. Kolaborasi antara pendidikan tinggi dan lembaga pendidikan menengah diharapkan dapat membangun kesinambungan proses pendidikan, memperluas wawasan peserta, serta memperkuat kesiapan mereka dalam menghadapi jenjang pendidikan dan kehidupan berikutnya.

Melalui kegiatan tersebut, Pascasarjana UAI Tuban berharap santri MA Unggulan Ulumiyyah Jatirogo tidak hanya memperoleh inspirasi, tetapi juga membangun kesadaran baru mengenai diri dan masa depannya. Pesan utama yang disampaikan Dr. Muhammad Aziz adalah bahwa generasi Muslim perlu memiliki akar iman yang kuat, keberanian untuk bermimpi, kesungguhan dalam merancang masa depan, serta kesiapan untuk bertindak dan memberikan manfaat. Menjadi Muslim Gen Z bukan sekadar tentang bagaimana menghadapi perubahan zaman, melainkan bagaimana tetap memiliki arah, nilai, dan kepemimpinan dalam ikut menentukan masa depan.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *