Wakil Rektor I UAI Tuban Jadi Observer AIPT UNKAFA Gresik, Dalami Strategi Asesmen Lapangan untuk Akreditasi 2027

·

·

GRESIK – Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) Tuban terus memperkuat langkah strategis dalam mempersiapkan Akreditasi Institusi Perguruan Tinggi (AIPT) 2027. Salah satu upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan benchmarking dengan menjadi observer dalam pelaksanaan Asesmen Lapangan (AL) AIPT Universitas Kiai Abdullah Faqih (UNKAFA) Gresik, Selasa (3/11/2026). Kegiatan ini diikuti Wakil Rektor I UAI Tuban, Dr. Muhammad Aziz, sebagai bagian dari komitmen institusi dalam membangun kesiapan akreditasi yang terukur, sistematis, dan berorientasi pada peningkatan mutu berkelanjutan.

Pelaksanaan benchmarking tersebut menjadi momentum penting bagi UAI Tuban untuk memperoleh gambaran faktual mengenai dinamika asesmen lapangan dalam proses akreditasi perguruan tinggi. Melalui pengamatan langsung, UAI Tuban tidak hanya mempelajari prosedur formal pelaksanaan visitasi, tetapi juga mendalami praktik pengelolaan asesmen, pola koordinasi, serta kesiapan institusi dalam menghadapi proses penilaian oleh asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).

Kehadiran Muhammad Aziz di UNKAFA Gresik pada mulanya merupakan bentuk pemenuhan undangan dalam pelaksanaan asesmen lapangan, mengingat dirinya merupakan alumni perguruan tinggi tersebut. Namun, kunjungan ini dikembangkan menjadi agenda akademik dan kelembagaan yang lebih substantif. Momentum silaturahmi alumni dimanfaatkan untuk melakukan observasi secara langsung terhadap berbagai aspek penyelenggaraan AIPT, sehingga menghasilkan nilai strategis bagi pengembangan dan persiapan akreditasi UAI Tuban.

Dalam kapasitasnya sebagai observer, Wakil Rektor I UAI Tuban mencermati berbagai tahapan pelaksanaan asesmen lapangan, mulai dari persiapan awal, penyambutan asesor, pengelolaan agenda kegiatan, hingga kesiapan sarana dan prasarana pendukung. Perhatian tersebut diarahkan untuk memahami bagaimana setiap unsur pelaksanaan dirancang secara profesional, terintegrasi, dan mampu mendukung kelancaran proses asesmen sesuai dengan standar dan ketentuan akreditasi yang berlaku.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian utama adalah penataan lingkungan dan ruang asesmen. Pengaturan venue, kesiapan ruang pertemuan, fasilitas pendukung, serta tata ruang wawancara menjadi bagian penting yang diamati. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa keberhasilan asesmen lapangan tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan dokumen akademik dan kelembagaan, tetapi juga oleh kesiapan teknis, efektivitas pelayanan, serta kemampuan institusi menciptakan suasana asesmen yang kondusif dan representatif

Selain mengamati aspek teknis, Muhammad Aziz juga mendalami mekanisme pelaksanaan wawancara dengan berbagai kelompok pemangku kepentingan, meliputi dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan stakeholder eksternal. Interaksi tersebut menjadi bagian krusial dalam asesmen lapangan karena memberikan ruang bagi asesor untuk mengonfirmasi kesesuaian antara dokumen, kebijakan, implementasi program, serta pengalaman nyata para pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Selama kegiatan berlangsung, Muhammad Aziz membangun komunikasi dan dialog dengan sejumlah unsur strategis panitia AIPT UNKAFA Gresik, termasuk bagian tendik, bagian umum, unsur Unit Pengelola Program Studi (UPPS), serta pimpinan program studi. Dialog ini dimanfaatkan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai pembagian peran, koordinasi lintas unit, pengelolaan agenda asesmen, dan strategi institusi dalam memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan efektif.

Pertukaran informasi tersebut juga memberikan perspektif mengenai pentingnya sinergi antara pimpinan perguruan tinggi, unit pengelola, program studi, serta seluruh elemen sivitas akademika dalam menghadapi asesmen lapangan. Kesiapan akreditasi, dalam konteks ini, tidak dapat dipandang sebagai tanggung jawab satu unit kerja semata, melainkan sebagai agenda kolektif institusi yang membutuhkan kepemimpinan, koordinasi, komunikasi, dan komitmen bersama dalam membangun budaya mutu.

Wakil Rektor I UAI Tuban yang juga merupakan alumni Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, Suci, Gresik, tersebut memandang kegiatan benchmarking sebagai sarana pembelajaran kelembagaan yang memiliki nilai strategis. Pengalaman mengamati secara langsung proses asesmen memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana standar akreditasi diterjemahkan ke dalam praktik, sekaligus menjadi referensi dalam mengidentifikasi aspek-aspek yang perlu dipersiapkan dan diperkuat di lingkungan UAI Tuban.

Hasil observasi dan dialog selama kegiatan ini selanjutnya diharapkan dapat menjadi bahan refleksi, evaluasi, dan perumusan strategi bagi UAI Tuban dalam mempersiapkan AIPT 2027. Berbagai pengalaman yang diperoleh akan menjadi masukan dalam memperkuat perencanaan, meningkatkan efektivitas koordinasi antunitas, mengoptimalkan kesiapan dokumen dan bukti kinerja, serta memastikan keselarasan antara kebijakan institusi dan implementasi nyata dalam penyelenggaraan tridarma perguruan tinggi.

Lebih dari sekadar persiapan menghadapi visitasi, kegiatan benchmarking ini juga diarahkan untuk memperkuat kesadaran bahwa akreditasi merupakan instrumen evaluasi dan pengembangan mutu institusi secara berkelanjutan. Oleh karena itu, persiapan AIPT perlu ditempatkan dalam kerangka penguatan tata kelola perguruan tinggi, peningkatan kualitas layanan akademik dan nonakademik, serta pembangunan sistem penjaminan mutu internal yang berjalan secara konsisten dan berkesinambungan.

Melalui langkah strategis tersebut, Universitas Al-Hikmah Indonesia Tuban berkomitmen untuk membangun kesiapan akreditasi yang lebih matang dengan melibatkan seluruh unsur pimpinan, unit pengelola, program studi, dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan pemangku kepentingan. Sinergi kelembagaan, penguatan budaya mutu, serta pemanfaatan pengalaman benchmarking diharapkan mampu menjadi fondasi dalam menghadapi asesmen lapangan AIPT 2027 secara profesional, terarah, dan optimal.

Dengan ikhtiar yang terencana, kolaborasi yang kuat, serta komitmen berkelanjutan terhadap peningkatan kualitas pendidikan tinggi, UAI Tuban berharap pelaksanaan akreditasi institusi pada 2027 dapat berjalan lancar dan memperoleh hasil terbaik. Pada akhirnya, capaian akreditasi tidak hanya menjadi pengakuan atas kualitas dan kinerja institusi, tetapi juga menjadi pijakan untuk memperluas kontribusi Universitas Al-Hikmah Indonesia dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang bermutu, berdaya saing, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *