MAHASISWA UAI TUBAN BERBAGI RIBUAN TAKJIL PUASA 1447 H

·

·

Bulan Ramadhan selalu dinanti oleh umat Islam di seluruh dunia. Bulan di mana nilai ibadah dilipat-gandakan. Untuk itu, moment baik ini diisi mahasiswa Universitas Al-Hikmah Indonesia (UAI) turun ke jalan, bagikan ribuan takjil pada Ramadhan 1447 H ini.
Mereka turun langsung ke jalan, membagikan takjil di beberapa titik. Bukan cuma soal berbagi makanan untuk berbuka, tapi juga ada niat sederhana: supaya kampus lebih dikenal dan terasa dekat dengan masyarakat.

Kegiatan ini sebenarnya dimulai sejak 13 Maret 2026. Waktu itu, teman-teman dari Program Studi Anak Usia Dini (PIAUD) lebih dulu bergerak di daerah Ponco, Parengan. Mereka menyiapkan sekitar 250 porsi takjil. Menjelang maghrib, suasana di lokasi cukup ramai. Banyak pengendara yang berhenti sejenak, dan dari situ kelihatan kalau masyarakat menyambutnya dengan baik.

Lalu di tanggal 15 Maret, kegiatan mulai terasa lebih ramai karena dilakukan di dua tempat sekaligus. Mahasiswa Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) turun di Perempatan Ngrojo dengan 170 porsi takjil. Di sisi lain, mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyyah (PGMI) juga ikut berbagi di Pertigaan Lajo Lor, jumlahnya kurang lebih 200 porsi. Di momen seperti ini, interaksi kecil—sekadar senyum, sapa, atau ucapan terima kasih—jadi hal yang terasa berarti.

Masuk tanggal 16 Maret, kegiatan semakin meluas. Pada kesempatan ini, mahasiswa Prodi Hukum Keluarga Islam (HKI) mengambil lokasi di Jalan Leran–Senori–Tuban dan membagikan 200 porsi. Di hari yang sama, mahasiswa Prodi Ekonomi Syariah (ES) dan Profi Perbankan Syariah (PS) juga ikut turut berbagi takjil di Pertigaan Soko dengan jumlah yang sama. Bisa dibilang, di titik-titik ini mahasiswa benar-benar hadir di tengah aktivitas masyarakat yang sedang sibuk menjelang berbuka.

Terakhir, pada 17 Maret 2026, dari pengurus BEM menutup rangkaian kegiatan ini dengan berbagai takjil di Pertigaan Alfamart Brangkal. Sekitar 250 porsi takjil dibagikan. Meski terlihat sederhana, momen penutup ini terasa cukup hangat karena jadi penegas bahwa kegiatan ini dilakukan bersama-sama, bukan hanya oleh satu pihak saja.

Kalau dihitung, totalnya sudah lebih dari seribu porsi takjil yang dibagikan. Angkanya memang bukan hal utama, tapi dari situ terlihat ada usaha kolektif dari mahasiswa untuk hadir dan berbagi.

Pada akhirnya, kegiatan seperti ini mungkin terlihat kecil. Tapi justru dari hal-hal sederhana itulah kedekatan bisa mulai terbangun. Mahasiswa tidak hanya dikenal lewat nama kampus, tapi juga lewat kehadiran langsung di tengah masyarakat—terutama di momen Ramadhan yang penuh makna ini. [Lubab]



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *