Prof. Sahiron: Perguruan Tinggi Keislaman Swasta harus Sinergikan Sains dan Nilai Islam dalam Pengembangan Akademik dan Integrasi Keilmuan

·

·

Pengembangan integrasi keilmuan menjadi fokus utama dalam penguatan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS). Hal ini disampaikan oleh Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Sahiron, M.A., dalam Kegiatan Rapat Koordinasi Pengembangan Akademik PTKIS bersama Rektor dan Pimpinan Universitas Islam di Lingkungan Kementerian Agama RI yang diselenggarakan di Universitas Islam Internasional Darullughah Wadda’wah (UII Dalwa), Pasuruan, Senin (29/12/2025).

Kegiatan yang dihadiri oleh 39 pimpinan universitas Islam non-negeri tersebut turut diikuti oleh Universitas Al-Hikmah Indonesia, Tuban, yang diwakili Wakil Rektor I bidang Akademik, Inovasi, Kelembagaan dan Kerjasama, Dr. Muhammad Aziz, S.ThI., M.H.I. Kegiatan ini merupakan bagian dari agenda strategis penguatan pengembangan program studi umum dan sains pada PTKIS sebagai universitas di bawah pembinaan Kementerian Agama RI.

Dalam pemaparannya, Prof. Sahiron menegaskan bahwa pengembangan program studi umum di lingkungan PTKIS harus berjalan seiring dengan integrasi nilai-nilai keislaman. Menurutnya, keunggulan PTKIS terletak pada kemampuannya mengharmoniskan ilmu pengetahuan modern dengan etika dan spiritualitas Islam, sehingga mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik sekaligus berkarakter dan bermoral.

Ia mencontohkan bidang kedokteran sebagai ruang penting penerapan integrasi tersebut. Pendidikan kedokteran di PTKIS, menurutnya, idealnya tidak hanya berlandaskan standar nasional, tetapi juga diperkaya dengan kajian Al-Qur’an, Hadis, dan etika medis Islam. Dengan demikian, dokter yang dihasilkan tidak hanya profesional secara keilmuan, tetapi juga memiliki fondasi moral dan religius yang kuat.

Lebih lanjut, Prof. Sahiron menyinggung kontribusi ilmuwan Muslim klasik seperti Ibnu Sina, yang melalui karya Al-Qanun fi al-Tibb menjadi rujukan utama dunia medis Barat selama berabad-abad. Namun, warisan keilmuan Islam tersebut justru belum terintegrasi secara optimal dalam pendidikan kedokteran di Indonesia.

Karena itu, ia menekankan bahwa PTKIS ke depan perlu mengambil peran sebagai penggerak utama dalam menjembatani dikotomi antara ilmu agama dan sains melalui kurikulum interdisipliner, riset kolaboratif, dan penguatan paradigma keselarasan agama dan ilmu pengetahuan. Melalui pendekatan ini, PTKIS diharapkan mampu berkontribusi dalam membangun peradaban yang beretika dan berdaya saing global, sekaligus melahirkan lulusan yang profesional dan berakhlak mulia.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *